Ritual Ini Amat Dipertahankan dalam Pembuatan Batik Gentongan

Batik Gentongan merupakan salah satu batik yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Bangkalan. Perlu kamu ketahui walaupun mempunyai motif yang sangat indah, ternyata dalam pembuatan Batik Gentongan para perajin harus menjalani ritual dan tradisi.

Ritual dan tradisi dalam pembuatan Batik Gentongan, membuat batik tersebut dipenuhi dengan aura mistis. Hingga saat ini, walau belum ada satu pun yang bisa membenarkan mistis tersebut, namun tak ada satupun pembatik yang mau melanggar dalam pembuatannya. Ritulal ini juga sudah dilakukan secara turun temurun.

Pada proses pembuatan Batik Gentongan bisa dibilang rumit dan cukup panjang. Kain yang akan di batik terlebih dahulu harus melewati proses lecak. Ini adalah proses dimana kain mori putih direndam dengan sejenis biji-bijian nyamplong yang dicampur dari sisa pembakaran kayu di tungku.

Butuh waktu tiga minggu untuk perendamannya. Hal ini betujuan untuk menghilangkan minyak yang sekiranya menempel pada kain agar memudahkan proses pewarnaan.

Setelah kain mori kaku, kain akan dicelup ke dalam air yang sudah ditambah sagu dari ubi kayu. Proses ini dikenal sebagai proses kanji.

Di proses ini para perajin Batik Gentongan mendesain atau menggambar motif asli Tanjung Bumi seperti Ramok, Sessek, Rawa, Carcena, Memba, Panji, Katupat, Napasir, Kembang Pot, Pereng Basa, Truki Melati dan Okel.

Nah, dalam proses menggambar motif ini pembatik harus membersihkan pikiran dan menjernihkan hati terlebih dahulu. Mereka tidak boleh ada pikiran dan prasangka buruk yang mengganggu terhadap orang lain serta masa yang akan datang.

Tradisi lainnya dalam pembuatan Batik Gentongan terdapat pada proses pewarnaan.

Dalam pewarnaan, batik direndam dalam gentong selama 6 bulan dan air yang digunakan haruslah dari sumber mata air Tanjung Bumi. Para pembatik percaya jika tidak menggunakan sumber mata air dari Tanjung Bumi, warna batik tidak akan terlihat bersinar.

Uniknya lagi, pada saat melakukan perendaman dalam gentong, pembatik harus melakukan ritual khusus, yakni meletakan sesajen di atas gentong tadi.

Setelah 6 bulan direndam, kain diangkat dan dikeringkan. Kemudian diwarnai seperti proses pewarnaan sebelumnya dan direndalm lagi dalam kurun waktu yang sama. Kegiatan ini dilakukan berulang kali sampai menghasilkan warna yang sesuai.

Dalam proses pewarnaan sendiri, jika ada warga di Tanjung Bumi yang meninggal dunia maka kegiatan ini harus dihentikan selama seminggu. Perajin percaya jika proses pewarnaan tetap dilakukan saat ada yang terkena musibah, warna yang dihasilkan batik juga tidak akan terlihat cerah.

Ritual dan tradisi dalam pembuatan Batik Gentongan ini, bagi para pembatik lain di luar Tanjung Bumi tidaklah masuk akal. Namun ritual dan tradisi dalam pembuatan batik ini merupakan bentuk pengabdian turun termurun yang sudah dilakukan para leluhur pembatik.

 

Penulis : Atung Nugroho

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s