Melihat Pembuatan Batik Itu Biasa, Bagaimana dengan Pembuatan Canting?

Keindahan kain batik dibuat melalui proses tradisional yang rumit. Dalam proses tersebut membutuhkan berbagai alat. Salah satu alat utama pembuatan batik adalah canting.

Jenis canting kemudian mengelompokkan batik menjadi dua macam, canting tulis untuk batik tulis dan canting cap untuk batik cap.

Tak hanya dalam pembuatan batik yang membutuhkan ketelatenan, pembuatan canting juga membutuhkan proses yang cukup lama. Namun proses produksinya sangat menarik karena membutuhkan ketelatenan dan daya kreasi yang tinggi.

Sumber gambar: Dewa
Sumber gambar: Dewa

Walau harga kain batik tulis cenderung lebih mahal dari batik cap, namun pembuatan canting tulis tidak serumit canting cap. Lempengan tembaga kecil, sekitar 5-7cm dibentuk menyerupai ceruk dan ditempelkan menggunakan patri pijar.

Ceruk yang biasa disebut nyamplungan ini nantinya akan menjadi tempat lilin malam. Pada sisi belakang canting di tempelkan batang tembaga dengan cara dipatri. Batang tembaga inilah yang nantinya akan mengunci ceruk dengan gagang.

Pada bagian depan ceruk akan ditempelkan pipa tembaga kecil. Pipa kecil yang disebut “cucuk” ini nantinya menjadi tempat keluarnya malam. Cucuk dibuat memakai lempeng tembaga kecil yang dibulatkan membentuk pipa.

Besar kecilnya ukuran lubang cucuk disesuaikan dengan menggunakan jarum. Ukuran ini akan menampilkan tebal tipis garis atau titik yang akan dibuat di kain batik. Canting tulis memiliki 8 ukuran berbeda, mulai dari ukuran 0 hingga 7 untuk canting standar. Adapula canting mopok (untuk ngeblok dan menutup warna) berukuran 10 sampai 15.

3-pembuatan-canting-tulis-1

Setelah bagian nyamplungan sudah direkatkan dengan cucuk dan batangan pengunci, semua bagian tersebut dikuatkan dengan cara dibakar. Setelah dingin, bagian tersebut ditempelkan pada gagang.

Bahan pembuat gagang sendiri memiliki banyak variasi. Di Pekalongan, banyak yang menggunakan bambu atau batang glagah, sejenis bambu air. Di Yogyakarta dan Surakarta gagang biasanya memakai kayu atau bambu, sedangkan untuk nyamplungan dan cucuk biasa memakai kuningan, bukan tembaga.

 

Penulis : Pasattimur Fajar Dewa

One Comment Add yours

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s